Informasi edukasi kesehatan, bukan pengganti konsultasi dengan dokter atau apoteker.

Apa itu Paracetamol?

Paracetamol atau acetaminophen merupakan obat dengan golongan antipiretik analgesic. Paracetamol bekerja langsung pada pusat pengatur suhu tubuh dan rasa nyeri yang ada  diotak dengan begitu paracetamol bisa digunakan untuk menurunkan suhu tubuh saat demam dan meredakan rasa nyeri. Obat ini dapat diperoleh tanpa resep dokter.

Untuk Sakit Apa Paracetamol Digunakan?

Orang dapat membeli atau menggunakan paracetamol pada berbagai rasa sakit, antara lain;

·         Demam,

·         Sakit kepala dan migrain,

·         Sakit gigi,

·         Nyeri otot dan sendi,

·         Osteortritis (nyeri sendi akibat pengikisan tulang rawan),

·         Nyeri haid,

·         Nyeri punggung.

Paracetamol bisa meredakan nyeri ringan hingga nyeri sedang, termasuk pilihan obat yang paling aman dikonsumsi saat nyeri. Dijual bebas di apotek, took obat, hingga warung.

Dosis dan Aturan Minum Paracetamol

Dosis dan aturan minum paracetamol sesuai umur:

Anak usia 0 – 3 bulan : 40 mg

Anak usia 5 – 8 bulan : 80 mg

Anak usia 12 – 23 bulan : 120 mg

Anak usia 2 – 3 tahun : 160 mg

Anak usia 4 – 5 tahun : 240 mg

Anak usia 6 – 8 tahun : 320 mg

Anak usia 9 – 10 tahun : 400mg

Anak usia 11 – 12 tahun : 480 mg

Anak usia 13 tahun ke atas : 640 mg

Interaksi Paracetamol dengan Obat Lain

·         Obat lain yang mengandung paracetamol (seperti obat flu, batuk, atau sakit kepala kombinasi): Menyebabkan konsumsi akumulatif zat aktif yang sama sehingga meningkatkan risiko tinggi overdosis paracetamol dan kerusakan hati (hepatotoksisitas) berat.

·         Obat pengencer darah (Warfarin): Penggunaan jangka panjang paracetamol dosis tinggi dapat menghambat metabolisme warfarin, yang berisiko meningkatkan pendarahan.

·         Obat mual dan muntah (Metoclopramide / Domperidone): Mempercepat pengosongan lambung sehingga meningkatkan kecepatan penyerapan paracetamol.

·         Obat penurun kolesterol (Cholestyramine): Mengikat paracetamol di usus halus sehingga mengurangi laju penyerapan dan efektivitas obat.

·         Obat antikonvulsan / epilepsi (Carbamazepine, Phenytoin, Phenobarbital): Menginduksi enzim hati yang meningkatkan metabolisme paracetamol menjadi metabolit toksik, sehingga mengurangi efektivitas analgesik sekaligus meningkatkan risiko toksisitas hati.

·         Antibiotik TBC (Isoniazid & Rifampisin): Menginduksi enzim mikrosomal hati yang mengolah paracetamol, sehingga memperbesar risiko keracunan atau kerusakan hati.

·        Obat asam urat (Probenecid): Memblokir konjugasi glukuronida dari paracetamol, yang memperlambat ekskresinya sehingga kadar paracetamol di dalam darah tetap tinggi lebih lama.

Efek Samping Paracetamol

Apabila dikonsumsi sesuai aturan dari dokter atau sesuai dosis, paracetamol jarang menimbulkan efek samping pasa penggunanya. Apabila digunakan berlebihan atau tidak sesuai dengan yang dianjurkan maka paracetamol akan timbul efek, seperti:

·         Mual

·         Hilang nafsu makan

·         Sakit perut bagian atas

·         Urin berwarna gelap

·         Penyakit kuning

·         Sakit kepala

Paracetamol untuk Ibu Hamil dan Ibu Menyusui :

Pada ibu hamil

Kategori B :

Studi pada binatang percobaan tidak memperlihatkan adanya risiko terhadap janin, tetapi belum ada studi terkontrol pada ibu hamil.

Pada ibu menyusui

Paracetamol aman untuk digunakan oleh ibu menyusui, selama sesuai dengan aturan pakai produk atau anjuran dokter.